Makanan Dan Rumah

Ada makanan yang selalu mengingatkan aku kepada rumah. Ya, rumah, di mana ada Bapak, Ibu, kedua adik dan segala kemesraannya. Maklum, aku seorang perantau amatir yang berusaha mengobati rindu pada rumah dengan ingatan tentang makanan. Bapak, seorang yang sangat selektif pada makanan. Ia penentang ulung penggunaan monosodium glutamate (MSG) pada makanan apapun. Bapak seringkali berkampanye untuk menjauhi MSG, karena banyak zat yang tidak menguntungkan bagi tubuh. Kampanye ini seringkali gagal, karena Bapak bukan dokter ataupun ahli gizi, hanya seorang buruh di sebuah perusahaan swasta. Ibu, adalah satu-satunya sosok yang dengan patuh dan kesadaran penuh melaksanakan anjuran Bapak untuk tidak menggunakan MSG dalam setiap masakan. Hampir setiap hari Ibu membekali Bapak dengan masakan rumah, dan selalu memasak di sela kesibukannya sebagai pegawai salah satu bank swasta yang kemudian menjadi korban likuidasi pada awal reformasi. Bagai pemilik sebuah restoran, Ibu mengganti menu makan kami tiga kali sehari. Aku dan adik-adik tidak pernah bosan dengan masakan Ibu dan membuat kami enggan untuk jajan di warung pecel atau warteg.

20170121_131124Sumber: Dokumentasi Pribadi

Salah satu camilan yang mengingatkan aku pada rumah adalah lunpia. Rebung atau tunas bambu adalah komposisi utama dari cemilan ini. Berpadu dengan rempah-rempah dan kecap, menjadikan cita rasa rebung sebagai isian lunpia ini manis asin. Ibu lebih suka memadukan rebung ini dengan telur dan udang, menjadikannya semakin gurih. Ibu hanya menambahkan gula dan garam sebagai penyedap masakan ini. Adonan tepung dan telur yang didadar tipis menjadi selimut rebung yang gurih. Jika semua telah bersatu dalam gulungan tiga kali gigit, maka siap untuk dimasukkan dalam minyak panas. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menggorengnya, cukup empat menit dengan api sedang. Setelah berwarna kecoklatan, kemudian angkat dan tiriskan. Terkadang, kami tidak sabar dan ingin segera melahap lunpia ini. Tak jarang lidah kami jumpalitan menahan uap panas yang belum sempurna hilang. Bila ku mencoba mengingat setiap gigitannya, legit rindu semakin terasa.

20170121_132802Sumber: Dokumentasi Pribadi

Orang banyak biasa menyebutnya pukis, makanan ringan yang banyak dijumpai di Pulau Jawa. Pukis biasanya dicetak lurus dan dalam, sehingga memiliki sisi yang lebih lebar daripada permukaannya. Ibu membuat versi sendiri untuk pukis buatannya, bukan miring melainkan bulat dengan permukaan lebih lebar. Pukis buatan Ibu dipadu dengan meises dengan mutu sedang dan tepung premium serta santan kelapa. Tidak lupa ragi instan yang membuatnya mengembang dalam waktu yang tak lama. Lagi-lagi, gula dan garam adalah senjata yang ampuh untuk menambah manis dan menyeimbangkan cita rasa pukis ini.

20170121_135130Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kami menyebutnya kue ketawa, entah mengapa kata ketawa dipilih untuk nama kue ini. Mungkin rasa ingin tertawa yang ditimbulkan setelah memakannya. Ah, mungkin hanya rasa rindu pada Ibu yang membuat gembira setelah memakannya. Atau bentuknya yang seperti senyuman, membuat kue ini bernama ketawa. Apapun namanya, kue ini menemani ku di perantauan dalam waktu yang tak lama. Kue ketawa masuk dalam kategori kue kering. Ibu sering menjadikannya bekal ketika aku hendak kembali ke tanah rantau. Rasanya yang manis dan berpadu dengan wijen membuat kue ini terasa legit. Belum lagi renyahnya kue ini yang menimbulkan mulut ingin terus melumatnya.

Ketiga makanan ini mengingatkan ku pada rumah. Legitnya rindu selalu membawa ingatan kembali pulang dan merasakan peluk hangat keluarga. Tanah rantau yang seringkali tak menentu membuat hidup terasa pilu. Jika kalian ingin merasakan nikmatnya ketiga makanan tadi, ayo main ke rumah ku!

 

Iklan

Tentang Rokok di Museum Kretek (1)

Kata rokok acap kali kita dengar di berbagai tempat, mulai dari warung kelontong, warung makan hingga cafe yang berkelas. Berbicara tentang rokok tidak lagi tentang kaya dan miskin, namun tentang persahabatan atau bahkan perselisihan. Orang bisa saling mengenal satu sama lain hanya dengan saling memberi rokok atau meminjam korek, bahkan bisa berselisih hanya karena meminta rokok. Rokok sudah menjadi semacam kebutuhan bagi orang Indonesia. Mulut yang terasa pahit hingga makan yang kurang nikmat tanpa diakhiri dengan menghisap rokok. Peringatan “Rokok Membunuh Mu” yang digemakan oleh ahli kesehatan dan terpaksa diamini oleh perusahaan rokok pun tidak banyak mengurangi prosentase penjualan rokok. Rokok sudah seperti pengganti makanan pokok. Ekstremnya adalah orang bisa tidak makan asalkan bisa merokok bersama teman-teman.

Perjalanan sejarah rokok tidak dapat dilepaskan dari “rokok kretek”. Kota yang sangat terkenal dengan adanya rokok kretek adalah Kudus. Di kota ini juga masih terdapat beberapa pabrik rokok seperti Djarum dan Sukun. Sebagain besar masyarakat Kudus menggantungkan perekonomiannya di pabrik rokok. Salah satu museum di bangun di Kudus untuk merekam jejak rokok kretek, yaitu Museum Kretek.

Museum Kretek terletak di Jl. Getas, Kelurahan Pejaten kabupaten Kudus. Tak sulit menemukan museum ini di Kudus, karena lokasinya berdekatan dengan terminal. Di Museum Kretek tersimpan berbagai koleksi tentang rokok kretek, penemu dan perlengkapan untuk membuat rokok kretek. Kebetulan saya berkesempatan untuk mengunjunginya bertepatan dengan acara Pawai Dandhangan, jelang bulan ramadhan. Pada pintu masuk saya disambut dengan petugas tiket yang ramah dan halaman yang luas. Memasuki gedung pamer, saya disambut dengan patung yang melukiskan bagaimana cara membuat rokok kretek.

Gambar 1. Ruang Pamer di Museum Kretek Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sang Raja Kretek

Patung Nitisemito yang terdapa pada sudut ruangan museum ini menarik pandangan saya untuk melihat lebih dekat. Perjalanan hidup dan karir Raja Kretek, yaitu Nitisemito diceritakan lengkap di museum ini.

Gambar 2. Patung Nitisemito Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gambar 2. Patung Nitisemito
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Nitisemito dilahirkan di Kudus tahun 1836 dan meninggal tahun 1953. Dia dikenal sebagai Raja Kretek Kudus dan sebagai pemilik dari pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga. Sebelumnya ia pernah merantau ke Malang untuk menjadi buruh jahit dan pengusaha pakaian jadi. Namun harapan tak sejalan dengan kenyataan, usahanya di Malang bangkrut dan ia kembali ke Kudus. Usaha baru sebagai peternak kerbau pun tak berhasil ia jalani, hingga ia bertemu dengen Mbok Nasilah yang kemuadian ia nikahi. Usaha baru yang dijalani oleh Nitisemito dan Mbok Nasilah jalani adalah usaha rokok kretek. Mbok Nasilah bertindak sebagai pembuat atau pemroduksi rokok kretek, sedangkan Nitisemito berperan di bagian penjualan. Awalnya merk dagang yang diberikan Nitisemito pada rokok kreteknya tergolong aneh, seperti Kodok Nguntal Ulo, Tjap Soempil, dan Tjap Djeroek. Mulai tahun 1918 usahanya semakin meningkat hingga Nitisemito membangun pabrik di Desa Jati dengan luas 6 hektar dan mulai mengunakan merek dagang Tjap Bal Tiga.

Bahan Pembuatan Rokok

Adanya rokok tidak terlepas dari tembakau, sebagai bahan pembuatan rokok. Tembakau yang digunakan dalam pembuatan rokok terdiri dari berbagai jenis dan yang membedakan antara jenis satu dengan yang lain adalah tempat menanamnya. Daerah dataran tinggi seperti Temanggung, dataran tinggi Sumatra dan dataran tinggi Sulawesi.

Gambar 3. Berbagai Jenis Tembakau Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gambar 3. Berbagai Jenis Tembakau
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Selain tembakau, cengkeh juga merupakan bahan racikan yang digunakan dalam membuat rokok. Berbagai jenis cengkeh menjadi koleksi Museum Kretek, salah satunya adalah cengkeh dari Manado.

Gambar 4. Cengkeh Manado Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gambar 4. Cengkeh Manado
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tembakau dan cengkeh merupakan bahan utama pembuatan rokok, namun rokok tidak akan terasa nikmat tanpa saus. Bukan sembarang saus yang digunakan dalam pembuatan rokok, namun saus khusus untuk memberikan rasa sempurna dalam rokok. Ibarat bumbu, saus diperlukan untuk memantapkan rasa rokok. Di Museum Kretek kita juga dapat melihat dan mengamati berbagai macam saus  khusus rokok yang disimpan di  sana.

Gambar 6. Berbagai Macam Saus Tembakau Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gambar 6. Berbagai Macam Saus Tembakau
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Banyak hal menarik yang kita dapat saat berkunjung ke Museum Kretek. Tidak hanya melihat rokok dalam satu sudut pandang bahwa merokok itu tidak sehat, namun rokok adalah bagian dari budaya. Tentu peringatan tentang larangan merokok itu baik, namun mengerti sejarah dan kebudayaan tentang rokok jauh lebih arif. Ayo Ke Museum!

Priyayi dan Pegawai Negeri Sipil

Gambar 1. Bupati Blitar dan Pengiringnya Sumber: Troppenmuseum Collectie

Gambar 1. Bupati Blitar dan Pengiringnya
Sumber: Troppenmuseum Collectie

Banyak orang yang beranggapan bahwa menjadi ambtenaar merupakan pekerjaan yang seksi. Bagaimana tidak?. Jaminan hari tua alias pensiun telah membayang jika masa tua tiba. Pekerjaan yang tidak seberapa dan gaji yang menggiurkan membuat kebanyakan generai muda mengimpikan pekerjaan ini. Tidak jarang orang rela membayar berapun untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), dengan gaji 5 tahun masa kerja belum tentu balik modal. Sayangnya keinginan ini tidak diikuti dengan semangat membangun negara ini. Besarnya keinginan masyarakat untuk menjadi PNS dapat dilihat dari latar belakang sejarah kita. Ambtenaar adalah sebutan bagi pangreh praja pada masa kolonial. Pangreh Praja sendiri terbentuk abad ke 19, setelah Belanda melakukan reformasi birokrasi bagi pemerintah lokal. Kerajaan-kerajaan di Jawa pada umumnya diperintah langsung oleh Raja atau setelah proses islamisasi disebut dengan Sultan. Raja merupakan pemimpin tertinggi suatu kerajaan dan dilanjutkan dengan Patih dan yang terkecil adalah sikep.

Awalnya pekerjaan mengenai tata kelola kerajaan dikelola seluruhnya oleh abdi dalem, biasanya mereka bekerja turun-temurun. Seperti yang terjadi di Kerajaan Mataram, pekerjaan administrasi seluruhnya dikerjakan oleh patih, juru tulis kerajaan dan pejabat pengumpul pajak. Raja dan pejabat kerajaan mendapatkan gaji dari pajak hasil bumi yang disetorkan warga atau disebut innatura. Raja merupakan pemilik sah dari tanah yang didudukinya, sehingga rakyat yang tinggal di tanahnya diharuskan membayar pajak sewa tanah pada Raja yang berbentuk hasil panen. Hal ini sesuai dengan teori primus inter parents, yang mengatakan hak mutlak ada pada Raja.

Masuknya pengaruh Pemerintah Kolonial dalam kehidupan kerajaan membawa pengaruh pada sistem pemerintahan kerajaan tradisional. Pada awalnya Pemerintah kolonial Belanda menggunakan strategi pemerintahan langsung, yaitu dengan menarik pajak langsung melalui rakyat. Nampaknya sistem pemerintahan langsung ini tidak cocok diterapkan di Hindia Belanda. Golongan konservatif dan liberal yang seringkali beradu pendapat mengenai sistem pemerintahan yang cocok untuk diterapkan di Hindia akhirnya menggunakan sistem pemerintahan tidak langsung. Sistem pemerintahan ini memanfaatkan pemerintahan tradisional untuk menarik pajak dan menghisap sumber daya tanah jajahan. Setelah Belanda berhasil menguasai vorstenlanden, Pemerintah kolonial mulai membuat dua struktur pemerinthan yang dikenal dengan binnenlansche bestuur (BB) dan inlandsche bestuur (IB).

Kedua struktur ini dibuat untuk lebih mengatur masyarakat di tanah jajahan. BB dimulai dari gubernur jendral hingga kontrolir, sedangkan IB dimulai dari raja hingga wedana. Pemerintah kolonial berhasil menguasai daerah yang semakin luas dan membutuhkan pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penyelewangan pajak dari pejabat pemerintahan kolonial ataupun pejabat lokal. Terutama pada saat tanam paksa berlangsung antara tahun 1830-1870 dan masuknya modal kapital melalui perkebunan. Semakin banyak tenaga terlatih yang dibutuhkan untuk mengurus pajak dan administrasi negara. Selain itu gagasan politik etis yang dicetuskan oleh golongan liberal juga membuka kesempatan untuk melatih tenaga kerja pribumi melalui edukasi atau sekolah.

Program politik etis yang digaungkan saat adalah edukasi, irigasi dan emigrasi. Ketiga program ini dijalankan oleh Pemerintah Kolonial untuk membalas budi kepada rakyat Hindia Belanda yang telah diperas pada masa tanam paksa. Pada akhir abad 19 banyak sekolah didirikan, baik tingkat dasar maupun tingkat lanjut untuk pribumi. Salah satu sekolah tingkat lanjut pribumi adalah Opleidingsscholen voor Inlandsche Ambtenaren (Sekolah Pendidikan bagi Pejabat Pribumi) atau disingkat OSVIA.[i] Sekolah ini diisi oleh putra-putri bupati yang akan menggantikan ayahnya di masa datang. Dengan kata lain, sekolah ini dikhususkan untuk priyayi, yaitu orang-orang dilingkaran jabatan pemerintahan tradisional. Bahasa pengantar dalam sekolah in adalah bahasa Belanda, hal ini dilakukan Pemerintah Kolonial untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang Belanda.

Politik etis dan reorganisasi pemerintahan yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial membawa perubahan sosial di kalangan priyayi yang juga pejabat pemerintahan tradisional. Adanya sekolah yang dibangun pemerintah membuat akses pendidikan semakin mudah diperoleh, tak terkecuali untuk priyayi rendahan. Bagi para priyayi rendahan yang tidak dapat menyekolahkan anaknya di OSVIA, mereka akan mendaftarkan ke kweekschool atau sekolah guru. Predikat ambtenaar yang melekat pada siswa lulusan OSVIA menjadi incaran priyayi untuk menyelamatkan derajat sosialnya di masyarakat. Tidak peduli bagaimana anak sang priyayi, bila bisa membayar sejumlah uang untuk masuk OSVIA, maka akan bisa bersekolah di sana. Hal ini juga dipicu oleh sistem feodal lengkap dengan hubungan kawula gusti yang masih melekat di Jawa. Seorang Gusti atau Raja sampai kapanpun akan menjadi Raja dan Kawula atau hamba akan selamanya menjadi hamba. Konsep yang melekat ini membuat priyayi mati-matian untuk mempertahankan kedudukannya di masyarakat.

Waktu telah bergulir dan masa telah berubah, tetapi tidak juga merubah cara andang masyarakat terhadap kedudukan ambtenaar. Ambtenaar, jika saat ini dikenal dengan PNS atau Aparatur Sipil Negara (ASN) asih merupakan pekerjaan yang diidamkan oleh jutaan sarjana di Indonesia. Waktu luang yang melimpah, jaminan hari tua yang menggiurkan dan pekerjaan yang tidak berat membuat semua orang tua menginginkan anaknya untuk menjadi PNS. Satu pemahaman yang agaknya harus diluruskan ialah menjadi PNS untuk hidup santai dengan jaminan hari tua tidaklah suatu hal yang benar. Berjuang dengan segala dana, jaringan dan bukan dengan kemampuan juga bukanlah hal yang baik. Sejatinya PNS adalah pelayan bagi rakyat, bukan menjadi orang yang harus dihormati lantaran predikatnya sebagai ambtenaar.

Atika Kurnia Putri

Semarang, Oktober 2014

[i] Heather Sutherland, Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi, (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), hlm. 53

Kartini dan Perempuan

DSCF8102

Foto : Koleksi Museum Kartini, Jepara.

Sejak dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963, berbagai pendapat yang menolak pun muncul. Kartini dianggap sebagai pribumi yang telah terpengaruh oleh budaya barat dan bentukan Belanda. Dia dianggap tidak cukup berani untuk membela hak rakyatnya dan melawan penjajah. Tidak seperti Cut Nyak Dien dan Nyi Ageng Serang yang bersedia mengangkat senjata untuk mengusir penjajah, Kartini memilih jalan lain dengan menulis.

Dia melawan dari hati yang paling dalam atas ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Melalui goresan tajam penanya, dia mengkritik hal yang dianggapnya merugikan manusia. Tidak hanya menggungat penjajah yang telah berbuat sewenang-wenang, dia juga menentang feodalisme yang menjangkit penguasa pribumi. Dia merasa sangat kecewa saat melihat orang disekitarnya tidak bisa makan dan hidup serba kekurangan. Hal ini membuat Kartini galau, ditengah kehidupannya yang berkecukupan masih ada orang yang tidak bisa makan.

Kenyataan lain yang ditemukan Kartini adalah efek dari feodalisme yang mengakar dalam masyarakat pribumi. Banyak wanita yang tidak mendapatkan haknya dan lebih banyak melakukan kewajiban yang tidak seharusnya. Paham feodal yang seolah disahkan oleh Islam, menganggap jika poligami itu sah. Lelaki dapat tidur dengan siapapun yang dikendakinya. Untuk menghindari dosa, menikah dan memiliki istri berapapun sudah merupakan hal yang wajar pada masa itu. Kesengsaran hanya akan didapat perempuan ketika lelakinya pergi dan meninggalkan tanggungjawab. Melahirkan, membesarkan dan mencari penghidupan menjadi tugas kebanyakan perempuan yang kebetulan bernasib malang. Kartini prihatin melihat keadaan ini dan beranggapan bahwa penyebab dari semua ini adalah kaum perempuan yang tidak terdidik.

Korespondensi yang dilakukannya dengan teman-teman dari Belanda ikut mempengaruhi pikirannya untuk melakukan sesuatu untuk bangsanya. Pendidikan dan sekolah merupakan jawaban dari krisis yang melanda kaum perempuan di Jawa pada masa itu. Perempuan yang ada di bawah lelaki dan harus menurut dengan segala perintahnya tanpa boleh merasa keberatan menjadi dasarnya untuk melawan ketidakadilan ini. Membekali perempuan dengan pendidikan adalah jalan untuk menolong perempuan dari ketidakadilan ini. Pelajaran menjahit, memasak, baca dan tulis yang diajarkan Kartini di sekolah yang didirikannya tahun 1903. Hal ini dilakukan untuk membekali perempuan dengan ketrampilan dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kartini tetap mempertahankan dan menjaga keseimbangan antara pendidikan dan budaya. Ditunjukkan dengan tetap mengajarkan tata krama da kebudayaan Jawa pada setiap muridnya. Meski menganggap penting pendidikan yang berkiblat ke Eropa, Kartini tetap tak lupa pada moyangnya. Segala hal yang baik tentang moyangnya dia ambil dan ajarkan. Pada masa itu Kartini telah mengerti bagaimana perempuan harus seimbang dalam menjalani hidup. Antara pendidikan dan tata krama, antara hak dan kewajiban. Pada hakikatnya setiap hak yang berlebihan adalah penindasan.

Benteng Willem I: Bukti Imperialisme VOC

atika benteng

Benteng Willem I: Dokumentasi Pribadi

Semakin tua, semakin dicinta. Kalimat inilah yang kiranya dapat menggambarkan kecintaan seseorang kepada hal yang lampau, bangunan tua contohnya. Mungkin banyak orang bertanya, apa menariknya bangunan tua?. Jangan salah, di sanalah akan terungkap siapakah sebenarnya diri kita.

Salah satu bangunan tua yang menarik dan sempat saya kunjungi adalah Benteng Willem I, atau orang sekitar menyebutnya dengan nama Benteng Pendem. Saya berkesempatan mengunjungi benteng ini bersama teman saya, Neli, yang saat ini menjadi pengajar di Jurusan Sejarah Undip dan tamu spesial kami, Hendrik E Niemeijer atau akrab disapa Henk. Kami memulai perjalan kami dari salah satu hotel di kawasan Simpang Lima menuju ke Ambarawa. Tujuan kami adalah untuk menengok peninggalan VOC sekaligus melakukan pendataan. Hal ini terkait dengan pekerjaan Henk, dia merupakan salah satu anggota dari Corts Foundation yang sedang melakukan penelitian dan digitalisasi sumber VOC di Indonesia.

Benteng ini terletak di dekat RSUD Ambarawa dan di dalam Komplek Batalyon Kavaleri (Yonkav) Ambarawa. Sedikit mblusuk jika ingin masuk dan melihat benteng ini dari dekat. Benteng Willem I atau dalam bahasa belanda disebut dengan Willem de Eerste, yang dibangun oleh VOC.

Vereeneging Oostindische Compagnie (VOC) merupakan kongsi dagang yang di didirikan oleh Belanda pada tahun 1602 untuk menangani perdagangan di timur jauh. Awalnya, VOC merupakan kongsi dagang yang hanya berkembang di Batavia. Kekuasaan VOC semakin berkembang luas di Pantai Utara Pulau Jawa, tidak terkecuali Semarang. Selain merupakan kongsi dagang, VOC juga memiliki angkatan perang yang berfungsi untuk melindungi monopoli mereka dari penguasa lokal yang memberontak. Benteng ini difungsikan sebagai benteng pertahanan dan penyimpanan logistik. Maka tak heran jika Henk menyebut bahwa bentang ini merupakan bukti dari imperialisme VOC. Namun kongsi dagang ini tidak bertahan lama, korupsi yang merajalela menjadi penyebab dari keruntuhan VOC. Selain itu, angkatan perang yang kurang terampil dan tidak mendapat pendidikan resmi. Acap kali tidak dapat menanggulangi pemberontakan, seperti geger cina dan pemberontakan Sultan Agung. VOC dinyatakan jatuh dan gulung tikar pada tahun 1799.

Saya dapat bayangkan, jika pada masa lalu benteng ini merupakan benteng yang megah. Bangunan yang ada di tengah bentang merupakan bangunan inti. Benteng dikelilingi dengan tembok tinggi yang difungsikan untuk menanggulangi serangan musuh. Sayangnya, masyarakat kurang memahami perjalanan sejarah dari bangunan tersebut dan lebih mengenal makhluk halus yang tinggal di sana ketimbang arti bangunan. Media yang meliput pun tak kalah dalam hal kurang paham. Banyak acara televisi di tengah alam yang mementingkan interaksi dengan makhluk astral daripada membangun komunikasi dengan masyarakat untuk menjaga bangunan tersebut. Jangan sampai generasi muda hanya mengingat hantu mevrouw dan meneer, tetapi juga bisa menjaga ingatan masa lalu sebagai pijakan masa kini.